Newsletter subscribe

LATAR BELAKANG
PESADA adalah ornop lokal di Provinsi Sumatera Utara. Didirikan pada Oktober 1990 oleh 15 orang yang memiliki kepedulian yang sama pada persoalan sosial-politik Indonesia, terutama di Sumatera Utara. Kondisi politik dan peraturan pemerintah saat itu membatasi kegiatan LSM, maka Sada Ahmo didaftarkan sebagai yayasan dan disebut sebagai Yayasan Sada Ahmo (YSA). Selama 13 tahun keberadaannya, YSA bekerja untuk etnis minoritas (Pakpak) melalui Pengembangan Masyarakat (pendidikan anak-anak prasekolah, dan pengembangan kelompok perempuan) dan Masalah Gender.
Sejak orde baru jatuh dan masa transisi dalam sistem politik serta krisis moneter yang melanda Indonesia, YSA lebih banyak bekerja pada penguatan perempuan dalam politik dan ekonomi. Pada Agustus 2003, YSA memutuskan untuk lebih mandiri, transparan, demokratis dan partisipatif. YSA merubah status hukumnya menjadi Perkumpulan, yang disebut Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA). PESADA menghasilkan visi, misi, dan struktur organisasi baru.
VISI & MISI
Visi PESADA adalah untuk menciptakan komunitas dengan semangat ketulusan, disiplin, kesederhanaan, solidaritas, kesetiaan, kesetaraan, dan keadilan gender. Visi ini dikenal dengan slogan ‘Sinceritas et Simplicitas’ (Ketulusan & kesederhanaan), sementara beberapa nilai PESADA seperti: hak asasi manusia, kesetaraan gender, non-partisan, profesional, transparan, akuntabel, anti diskriminasi dan mandiri dicantumkan dalam Pedoman Perilaku.
Untuk mencapai visi dan analisis PESADA sesuai konteksnya, PESADA memiliki empat misi, yaitu .:

  1. Meningkatkan kesadaran perempuan, anak-anak dan kelompok marginal lainnya tentang hak-hak mereka.
  2. Memperkuat posisi ekonomi, sosial, budaya dan politik perempuan, anak-anak dan kelompok marginal lainnya.
  3. Advokasi dan bantuan hukum untuk perempuan, anak-anak dan kelompok marginal lainnya.
  4. Melakukan penelitian dan pengembangan kapasitas.

KERANGKA KERJA DAN STRATEGI
PESADA mengembangkan misi dan programnya melalui pemahaman sosial-ekonomi dan politik Sumatera Utara tingkat local, nasional dan makro. Ketidaksetaraan jender dan kemiskinan, terutama feminisasi kemiskinan, menjadi masalah utama bagi PESADA dalam mengembangkan Program Penguatan Masyarakat untuk perempuan, anak-anak, keluarga miskin, dan kelompok marginal lainnya.
Program ini menggunakan kerangka kerja dengan menggunakan Analisis Kekuasaan’ dengan pendekatan pengorganisasian perempuan berbasis hak dan akar rumput untuk melihat peningkatan kesadaran kritis sebagai jantung penguatan, dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasar dan akses ke sumber daya bagi perempuan miskin. Saat kelompok-kelompok yang tadinya tidak kuat (dikarenakan pebedaan jenis kelamin, ekonomi, ideologi, kelas, dll.) menyadari posisi mereka setara dengan orang lain dan memahami hak-hak mereka untuk berpartisipasi, maka kelompok tersebut akan percaya diri untuk ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan untuk implementasi kebijakan. PESADA memahami bahwa kekuasaan tidak hanya dimiliki oleh satu kelompok (kelompok kuat: formal, informal / tidak terlihat, dan tersembunyi), tetapi juga pada prinsip kesetaraan yang dibangun dari pemahaman praktis tentang pembagian kekuasaan dan kekuatan kolektif dalam program yang sejalan dengan kerangka penguatan perempuan.
Oleh karena itu, seluruh program PESADA harus mempertimbangkan lima level penguatan yaitu:
1. Pemenuhan kebutuhan dasar (makanan, air minum, dll.).
2. Akses ke sumber daya (pendidikan, keterampilan, informasi, kredit, dll.).
3. Kesadaran kritis.
4. Partisipasi dalam pengambilan keputusan baik di rumah tangga, lingkungan, dan ruang publik / politik.
5. Kontrol atas sumber daya, implementasi pengambilan keputusan, termasuk keterwakilan permepuan di semua arena pengambilan keputusan.
Kerangka kerja digunakan dalam semua tahapan program dengan menggunakan metode partisipatif mulai dari evaluasi dan perencanaan tahunan (Evaperca), Review rencana kerja enam bulanan dan perencanaan strategis tiga tahunan (Renstra). Dalam menjalankan kegiatan penguatan, PESADA juga percaya bahwa semua personil dikuatkan melalui proses pembelajaran dari masyarakat.
KINERJA PROGRAM PENGUATAN PEREMPUAN & MASYARAKAT 2018. Sampai saat ini PESADA (http://www.pesada.org) secara konsisten bekerja langsung melalui penguatan perempuan di 14 kabupaten di Sumatera Utara yang sebagian besar di daerah pedesaan, daerah miskin, termasuk di daerah bencana seperti Pulau Nias. Pesada juga bekerja sebagai host/koordinator (untuk keuangan & manajemen) melalui konsorsium 8 LSM Perempuan untuk HKSR (Kesehatan dan Hak Seksual & Reproduksi), Advokasi di 7 provinsi (Aceh, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung) dan advokasi bagi perempuan di Pulau Sumatra. Terlepas dari wilayah Sumatra, PESADA dianggap sebagai ahli dalam pengarusutamaan gender dan penguatan perempuan (terutama di bidang ekonomi dan politik) serta dalam pengembangan organisasi LSM di tingkat Nasional. Di Sumatera Utara, PESADA telah memulai program penguatan melalui credit union perempuan, Pengembangan Usaha Mikro & Kecil, Partisipasi Politik Perempuan, Advokasi Kebijakan, WCC Sinceritas, Pengembangan Kapasitas dan Manajemen Pengetahuan. Hingga saat ini (akhir 2018), pencapaian PESADA program sebagai berikut:
1. Perkembangan Credit Union (CU) & Kelompok Perempuan Usaha Mikro (Kelpum).
Ada 350 kelompok perempuan yang didampingi dengan jumlah anggota 20.038 orang (perempuan dewasa 15.940, anak: 2.377 perempuan & 1.721 laki-laki), dengan total saham Rp. 35.359.989.517,- dan kredit Rp. 38.864.210.818,- (1 USD = Rp. 14.000, -)
Sebagai sebuah inovasi untuk menjangkau perempuan miskin yang tidak dapat bergabung dengan kelompok CU perempuan, PESADA memulai kelompok usaha kecil perempuan untuk menabung & meminjam yang terdiri dari 5 hingga 12 anggota perempuan. Pada tahun 2018 ada 29 Kelompok Usaha Perempuan Mikro (KELPUM) di Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah, Pulau Nias dengan 292 anggota. Kelompok-kelompok ini akan bergabung dalam CU setelah mereka dapat mengembangkan usaha dan saham mereka.
2. Kredit Mikro untuk Usaha
Total kredit mikro yang diberikan sebesar Rp. 1.178.400.258,- . Tahun 2018, ada 14 kelompok kebun keluarga yang mengakses pinjaman dengan total pinjaman sebesar Rp. 89.681.594 ,- Pemanfaatan pinjaman untuk usaha, seperti jual sayur-mayur, beternak ayam, dan pedagang kecil.

3. Advokasi untuk Perempuan Korban Kekerasan Berbasis Gender.
Ada 159 kasus yang ditangani langsung oleh WCC Sinceritas, sebagian besar kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) 81 kasus (51%); dengan kekerasan terhadap anak perempuan (kekerasan seksual & kencan) 34 kasus (28%). Ada 58 kasus yang ditangani di pengadilan, sementara sisanya ditangani dengan konsultasi hukum, mediasi pemimpin keluarga dan lokal, dan konseling intensif.
4. Partisipasi Politik Perempuan.
PESADA bekerja bersama dengan Jaringan Aktivis Perempuan di Sumatera Utara dan Forum Komunitas Perempun Akar Rmput/FKPAR (15.940 anggota) yang merupakan anggota Permampu melakukan aksi bersama kampanye masalah politik dan HKSR perempuan. Selain berjaringan, PESADA mengembangkan 4 organisasi perempuan independen untuk partisipasi politik, yaitu SPUK (Suara Perempuan untuk Keadilan) beranggotakan 14.804 di 8 kabupaten di Sumatera Utara.Pencapaian kepemimpinan perempuan dan partisipasi politik sebagai berikut: Melakukan pendataan 344 perempuan potensial untuk berbagai posisi kepemimpinan perempuan mulai dari tingkat desa hingga kabupaten dan provinsi. Dialog Publik dan kontrak politik dengan kandidat: o Gubernur Sumatera Utara (saat ini terpilih sebagai Gubernur untuk periode 2018-2022) bersama dengan Kelompok Perempuan Sumatera Utara dan Kelompok Aktivis Perempuan akar Rumput.o Bupati Dairi bersama dengan Aliansi NGO Dairi.o Advokasi Kebijakan, pada tahun 2010 – 2018 PESADA berhasil mengadvokasi 3 Kebijakan Pedesaan tentang Perlindungan Perempuan, Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan Desa dan Perlindungan Hak Anak. PESADA mengadvokasi hak atas identitas anak yang mencapai 4 akta kelahiran, 3 kartu keluarga, dan memfasilitasi BPJS/asuransi kesehatan.
5. Jaringan
Pesada aktif terlibat dalam berbagai jaringan untuk gerakan perempuan dan forum pembelajaran seperti: pendiri dan anggota ASPPUK ( Assosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil, asppuk.or.id), pendiri dan anggota FBCB (Forum Belajar Capacity Building), pendiri dan anggota SAWG (Safe All Women & Girls), anggota ASPBAE (www.aspbae.org.), JASS https://justassociates.org) dan pendiri & anggota FAMM Indonesia (Forum Aktivis Feminis Muda); serta jaringan NGO lokal lainnya di tingkat Kabupaten dan Provinsi.
6.Program Hak Anak
Hingga saat ini PESADA masih bekerja secara tidak langsung dengan kelompok anak pra-sekolah di Pakpak Bharat melalui (Taman Penitipan Anak) dengan jumlah anak-anak yang dididik 72 orang (29 perempuan dan 43 laki-laki) dengan persentase swadaya sekitar 50%, dan sisanya didanai oleh Alokasi Dana Desa.
7. Advokasi HKSR
Pesada adalah host/koordinator Konsorsium Permampu yakni delapan (8) LSM Perempuan di Pulau Sumatera tentang Advokasi HKSR. Per Oktober 2018, data dari 8 provinsi sebagai berikut:Indikator pencapaian PERMAMPU pada Oktober.2018

8. Publikasi dan Akuntabilitas
PESADA sebagai host/koordinator Konsorsium Permampu (http://www.permampu.org/ http://mampu.or.id/uncategorized/permampu-perempuan-sumatera-mampu/) dan anggotanya menerbitkan buletin enam bulanan yang digunakan untuk mempromosikan Advokasi HKSR dan sebagai bentuk akuntabilitas publik, serta Laporan Publik tahunan.
9. Anggaran
Total anggaran yang dikelola oleh PESADA untuk 2018 Rp. 1.810.880.437 dari 3 mitra yakni MAMPU-DFAT Australia, ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil) dan KEMENKUMHAM (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia).
10. Program PESADA pada periode 2010 2019 yang didanai:

  • Penguatan Ekonomi dalam rangka mendorong Kepemimpinan Perempuan, Oxfam Novib, total hibah Rp5.525.187.967, periode 2011-2014.
  • Penguatan Kelompok Marjinal, dukungan ACE, total dana Rp. 732.420.000.-, periode 2011-2012.
  • Peningkatan posisi perempuan dan keluarga melalui produksi makanan organik berbasis pedesaan dalam diversifikasi dan pemasaran di kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat, Rp. 3,161,197,326, didanai oleh ICCO periode 2012-2016.
  • Meningkatkan Kualitas Hidup Perempuan melalui Pengolahan Limbah Plastik, dukungan dari Direktorat Pengembangan Masyarakat dan Pendidikan, Rp. 30.000.000, -, 2013.
  • Penyediaan bantuan hukum bagi orang miskin, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, Rp. 79.651.400, – (2017- saat ini). Kerjasama dilakukan sejak 2014.
  • Memperkuat Kepemimpinan Perempuan untuk Mencapai Kesehatan Ibu yang Lebih Baik dan Kesehatan Reproduksi, MAMPU, Rp. 5.692.201.250 untuk periode 2016-2019.

11. Personil
PESADA adalah organisasi yang dipimpin oleh perempuan dengan 29 personil (24 perempuan & 5 laki-laki) termasuk 1 perempuan sebagai Direktur Eksekutif, 4 Koordinator perempuan, 2 Koordinator laki-laki, 6 Dewan Pengurus/Pengawas (4 perempuan, 2 laki-laki).