Newsletter subscribe

Siaran Pers

Keluarga Sebagai Landasan Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan

Posted: December 5, 2017 at 3:49 am   /   by   /   comments (0)

Kampanye 16 Hari Aktivisme Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Siaran Pers

No: 380/Siaran Pers/DE/XI/2017
Medan, 27 November 2017

 

Kekerasan terhadap Perempuan masih menjadi masalah besar dalam pemenuhan Hak Azasi Manusia. Dari data hasil Survey Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) tahun 2016 tercatat bahwa terdapat 1 orang dari 3 perempuan usia 15-64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan kekerasan seksual oleh pasangan sendiri maupun selain pasangan selama hidup mereka. Dalam pernikahan, terdapat 2 dari 11 orang yang mengaku pernah mengalami kekerasan di dalam rumah tangga.[1] Komnas Perempuan RI pun mencatat bahwa angka kekerasan yang dialami perempuan di Indonesia masih sangat tinggi yang mencapai 295.150 kasus. Kondisi tingginya kekerasan berbasis gender di tingkat nasional juga terjadi di Propinsi Sumatera Utara. Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA), melalui WCC-SINCERITAS hingga tahun Oktober 2017 telah mendampingi 126 kasus kekerasan, terdiri dari 66 kasus KDRT, 33 kasus kekerasan dalam pacaran/dan di publik serta 27 kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan.

Dalam rangka Perayaan 16 Hari Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan pada tahun 2017, PESADA melaksanakan Dialog Publik dengan tema Keluarga Sebagai Landasan Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan pada 27 November 2017 di Medan. Dialog publik ini diikuti oleh 50 orang peserta (35 perempuan dan laki-laki 15) orang dari Kab. Dairi, kab. Pakpak Bharat, Kab. Humbang Hasundutan, Kab. Langkat, Kab. Nias, dan Kab. Nias Barat. Dalam pidato sambutannya perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Propinsi Sumatera menyatakan bahwa segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan pelanggaran Hak Azazi Manusia. Kekerasan terhadap Perempuan dapat terjadi di mana saja baik lingkup rumah tangga dan publik. Dalam upaya mencegah terjadinya Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak diharapkan peran serta keluarga melalui pembinaan ketahanan keluarga. Keluarga sangat berperan dalam mengatur dan menjaga kesehatan reproduksi yang akan melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Perwakilan Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara yang ikut hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan pentingnya hidup sehat menjadi bagian gerakan di masyarakat. Kita berharap akan bertambah banyak Keluarga Peduli HKSR yang menjadi kader Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) khususnya membantu Ibu hamil ke pelayanan kesehatan, memeriksa kesehatan seksual, ikut menggunakan kontrasepsi, makan buah/sayur dan tidak merokok. Ibu Juliani, salah satu pemenang Keluarga Peduli HKSR menyatakan Saya beruntung mendapat pendidikan kesehatan reproduksi dan pentingnya hidup sehat. Sekarang banyak ibu dan warga desa yang semakin antusias untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan makanan bergizi setelah adanya pemeriksaan kesehatan yang dilakukan PESADA bekerja sama dengan Puskesmas Padang Tualang di Kab. Langkat.

Secara khusus, PESADA menyampaikan pandangan pentingnya persiapan perkawinan bagi pasangan yang akan menikah untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan dalam rumah tangga. Setiap pasangan harus meyakini, bahwa dalam perkawinan, posisi perempuan dan laki-laki adalah setara. Suami diberikan mandat sebagai kepala keluarga untuk bertanggung jawab atas kebutuhan dan kepentingan keluarga di hadapan hukum, adat dan negara. Pembagian peran dan membangun komunikasi yang terbuka menjadi dasar untuk membangun keluarga yang bebas dari segala bentuk kekerasan.

Tingginya kekerasan yang dialami oleh Perempuan dan Anak Perempuan yang digambarkan diatas menjadi kerpihatinan dari para Keluarga Peduli Hak Kesehatan Seksulitas & Reproduksi dampingan PESADA yang tersebar di 60 Desa di Propinsi Sumatera Utara. Di desa kami, di Nias masih sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang disebabkan kurangnya pendapatan sementara anak banyak. Tapi untunglah sejak ada pendampingan oleh PESADA, kami Bapak-Bapak mendapat pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas, kami dapat mempraktekkan mengatur jarak kelahiran anak, memakai kontrasepsi sehingga mampu menyekolahkan anak.

Dalam kesempatan ini, PESADA juga memberikan penghargaan kepada para pasangan Suami-Isteri sebagai role model Keluarga Peduli HKSR sebanyak 6 pasangan suami istri (12 orang). Pemenang dipilih berdasarkan kriteria yakni Isteri adalah anggota CU, mereka dipilih oleh tim juri yang terdiri dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Tokoh Adat, Pengurus CU Pesada PEREMPUAN. Kriteria yang dinilai, pasangan bukan pelaku kekerasan, maksimal memiliki anak 3, mengatur jarak kelahiran anak minimal 3 tahun, suami/isteri menggunakan kontrasepsi (lebih disukai kalau suami yang memakai alkon), suami ikut bekerja mengurus rumah tangga, keluarga aktif mengikuti Posyandu dan pernah mendapat pelatihan penyadaran gender. Ke depannya diharapkan para Champion Keluarga Peduli HKSR dapat menjadi kader penggerak di komunitas sekitar untuk mengajak keluarga-keluarga lainnya peduli HKSR dan mengkampanyekan anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan.

Berangkat dari keprihatinan masih terjadinya kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan di Sumatera Utara, Perkumpulan Sada Ahmo bersama Keluarga Peduli HKSR menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Mendesak Pemerintah Propinsi dan Kab/Kota berkomitmen dalam Penghapusan Kekerasan berbasis gender melalui program terpadu bagi perempuan korban kekerasan.
  2. Menuntut Aparat Penegak Hukum agar bertindak tegas menghukum pelaku kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan agar ada efek jera.
  3. Mendorong Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan untuk memastikan keluarga miskin mendapatkan PBI-JKN, memastikan tersedia tenaga dokter standby pada hari libur di Puskesmas atau RS.
  4. Mendorong Pemerintah Desa agar turut mengembangkan Pendidikan Keluarga Peduli HKSR di Desa dan membiayai program pelayanan dasar untuk mendukung pemenuhan HKSR seperti air bersih, jamban, dan dukungan Posyandu.
  5. Mendorong kepada Tokoh Adat dan Tokoh Agama serta Pemerintah Daerah memfasilitasi pendidikan pra nikah untuk masyarakat yang sudah dewasa.

 
Medan, 27 November 2017
 
 
Berliana Purba
Direktur Eksekutif PESADA
 
 
Kontak: Berliana Purba 082272445779, Ramida Sinaga 081361537503, Ganda Siregar 085269343762

Comments (0)

write a comment

Comment
Name E-mail Website